TGH Ahmad Tretetet: Sepenggal Kisah Jelang Wafat

4427

Banyak cerita menarik seputar Tuan Guru Ahmad Tretetet sebagaimana pengalaman Spiritual banyak orang yang membuktikan kebenaran lisan ulama yang dijuluki Tuan Guru Tanpa Pondok Pesantren.

Inilah bagian kedua, tulisan Buyung Sutan Muhlis,  yang mengungkap bagaimana peristiwa dramatis jelang meninggalnya TGH Ahmad Tretetet, Ulama Kharismatik Lombok.

Kebenaran ucapan H Ahmad Tretetet terbuktikan setelah Sri Nciu menjadi muallaf dan menikah dengan Helmi Hasan. Misteri yang tak terpecahkan selama belasan tahun. Tetapi kisah Sri tak berakhir sampai di situ. Setelah menikah, ia dan suaminya beberapa kali bertemu dengan tokoh ulama keramat tersebut. Sampai akhirnya mereka mendapat dua baris ayat pendek yang diberikan langsung oleh Ahmad Tretetet yang sampai saat ini diamalkan oleh pasangan tersebut. Tapi sebelum meneruskan cerita tentang pengalaman spiritual dan religius Helmi dan Sri dengan sosok Ahmad Tretetet, guru dari segala guru itu, kita beralih dulu pada peristiwa dramatis, tiga puluh dua tahun yang lalu.

Penghujung 1985. Awan menggantung murung di langit Kota Mataram.

Sebuah berita menyentak, mengabarkan sang Waliyullah telah menghembuskan nafas terakhir. Warga kota geger. Orang-orang di pasar yang kerap berpapasan dengan sosok dekil bertingkah laku ganjil itu, menyebarkan berita berpulangnya tokoh fenomenal tersebut. Kabar wafatnya tokoh ulama besar itu dengan cepat beredar di seantero kota.

Tak lama, kediaman Ahmad Tretetet di Karang Kelok, Monjok, Mataram, laksana diterjang banjir manusia.

Tak ada celah sama sekali bagi pengunjung untuk dapat mendekat ke rumah duka. Sepanjang jalan menuju kediaman Tuan Guru Besar itu dijejali para pelayat.

Kondisi ini menyebabkan para pengusung jenazah tak ada alternatif untuk membawa keranda menuju pekuburan. Adalah tak mungkin menerobos lautan manusia. Maka tak ada jalan lain, jenazah sang legenda diangkat tinggi-tinggi, dioper dari satu tangan ke tangan lainnya yang telah menanti giliran. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat dramatis.

“Saya hanya bisa memandang dari kejauhan, jenazah Tuan Guru Ahmad Tretetet merayap pelan dijunjung tinggi di atas kepala orang-orang yang melayat. Dari dalam rumah, jenazah dioper dari pelayat yang satu ke pelayat lainnya,” tutur Sanusi, seorang pensiunan guru yang ikut menghadiri upacara pemakaman Ahmad Tretetet.

Dengan cara itulah, akhirnya jenazah sang tokoh sampai juga ke liang lahat, tempat peristirahatannya yang abadi.

Tanda-tanda kebesaran seseorang dapat dibuktikan saat ia meninggal dunia. Dan pada hari itu, makam karang Kelok Mataram tak mampu menampung arus kedatangan para pelayat. Kepergian TGH Ahmad Tretetet bin TGH Umar Kelayu, diantarkan puluhan ribu warga yang berbelasungkawa. Berbagai kalangan tumpah-ruah di pemakaman. Dari pejabat hingga kaum papa.

Semua merasa kehilangan. Lelaki misterius, ulama masyhur, sosok dekil penikmat sirih, pemilik ludah, kencing, dan kata-kata bertuah itu telah pergi.

Hari itu, Kamis, 19 Desember 1985, Lombok nestapa. (Bagian Kedua-Bersambung)