Muhammad Said : Maulid, Kartun Nabi, dan Sekularime

74

Muhammad Said
Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Filsafat STAI Darul Kamal Lombok Timur

SELAPARANGTV.ID- Ummat Islam sedang bersuka-cita merayakan Maulid Nabi. Tiba-tiba di belahan bumi lain, di Perancis, seorang guru menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswa sebagai bentuk kebebasan berkespresi. Sontak peristiwa itu memancing reaksi ummat Islam dari berbagai penjuru. Atas nama freedom of speech dan sekularisme barangkali Samuel Paty, guru sejarah itu, menganggap tindakannya adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, normal, dan lumrah dalam tradisi peradaban Barat. Sementara itu, kemarahan muncul dari kelompok Islam, bahkan terjadi serangan yang menewaskan guru tersebut, lalu menyusul penyerangan atas sebuah gereja yang menewaskan tiga orang.

Peristiwa itu seketika mengingatkan kita pada tesis lawas Samuel Huntington (1992): clash of civilizations. Huntington berargumen bahwa identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca Perang Dingin. Tatanan dunia di masa depan akan ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Meskipun teori ini sudah dianggap usang, sepertinya dalam kasus-kasus tertentu teori ini masih relevan, termasuk melihat peristiwa yang terjadi di Perancis.
Kritik terhadap Freedom of Speech dan Sekularisme
Dari kasus itu, tampaknya kita butuh melakukan refleksi mendalam tentang bagaimana kita mesti merespon dan memahami peristiwa itu secara jernih.

Kita mesti mempertanyakan kembali apa makna kebebasan berekspresi (freedom of speech) dan sekularisme yang dijadikan dalil sekaligus dalih oleh Macron untuk melegitimasi tindak “kekerasan simbolik” berupa kartun Nabi yang dilakukan di sebuah sekolah. Adalah Talal Asad, pakar Antropologi Agama, menyuguhkan kritik tajam atas sekularisme secara filosofis-historis. Menurutnya, sekularisme adalah “semacam relasi baru antara agama dan yang sekuler, di mana kekuatan sekuler menentukan mana yang sah dan mana yang tidak untuk agama dalam ruang publik di sebuah negara modern”. (Talal Asad, Formation of The Secular, 2003)

Dengan demikian, bagi Asad, sekularisme adalah proyek negara modern (modern state) di mana negara sebetulnya medikte agama-agama. Dari sudut ontologis, bahwa pemisahan antara agama dan negara sebenarnya tidak pernah terjadi. Sebab dalam iklim sekulerisme yang sesungguhnya terjadi adalah negara mengatur agama dengan kerangka dan standar tertentu yang dikehendaki negara. Dalam konteks historis, kerangka yang dimaksud Asad adalah konstruksi agama versi Kristen Protestan. Sebab sekulerisme merupakan konstruksi ruang dan waktu tertentu, yaitu Eropa paska reformasi gereja.

Dengan melihat konteks di atas, maka kebebesan berekpresi atas nama sekularisme sebetulnya tak memiiki esensi universal. Dalam arti, sekulerisme adalah produk Eropa-Kristen yang hanya bisa berlaku bagi konteks masyarakat Eropa. Maka wajar jika Negeri-negeri Timur (khususnya Islam) tersinggung atas kemunculan Kartun Nabi itu. Sebab masyarakat Timur memilki alam pikir, budaya dan sensitifitas keagamaan sendiri yang berbeda dari Barat. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad ditempakan sebagai figur yang sakral di hati ummat Islam. Tentu saja ini klaim keimanan yang tumbuh di lubuk hati orang-orang muslim yang harus dihormati. Bahkan jika meminjam argumen teoritik Durkheim, Nabi itu seperti “totem” ia adalah representasi material yang bersumber dari kekuatan non-material, di mana kekuatan nonmaterial itu adalah perasaan individu-individu dalam masyarakat muslim tentang figur teladannya itu.

Tentu saja ketika membincang relasi Islam dan Barat kita akan selalu melihat banyak hal yang tidak menyenangkan, setidaknya begitulah statemen Edward Saeed dalam bukunya Covering Islam (1981). Tetapi, kita tidak harus mengeneralisir secara buta, sebab beberapa ilmuwan Barat justru mengkritik Barat itu sendiri, misalnya Yuval Noah Harari (2018) dengan tegas mengutuk kebangkitan negara-negara sekuler yang dalam konteks tertentu, justru menimbulkan kemelaratan dan kemalangan umat manusia di tengah sistem demokrasi yang kacau dan ambruk. Demikian pula Karen Armstrong, ia kerap mengkritik bahwa sekulerisme atas nama kebebasan yang dibangga-banggakan para pengasongnya justeru berkontribusi terhadap suburnya terorisme dan radikalisme yang dialamatkan pada orang-orang Islam (Arsmtrong, 2015).

Sikap dan Respon Ummat Islam Indonesia
Menyikapi kasus Perancis Ummat Islam di Indonesia memiliki ragam respon. Setidaknya hal itu bisa diamati di percakapan media sosial. Golongan pertama, yakni golongan yang mengutuk sekeras-kerasnya dengan semangat membara-bara. Golongan kedua, yakni golongan agak tawassuth, tetap menyatakan sikap protes tetapi dengan cara-cara yang terukur dan elegan. Sedangkan golongan ketiga, yakni golongan yang agak“permisif”. Mereka ini menuduh ummat Islam terlalu reaksioner dan baperan dalam merespon peristiwa kartun Nabi. Sebetulnya kelompok ini terdiri dari segelintir intelektual yang memposisikan diri sebagai duta Islam di mata koleganya para intelektual Barat. Namun patut dicurigai, meskipun mereka punya niat baik menjaga citra Islam, jangan-jangan mereka telah terperangkap dalam “Westernized minded”. Sehingga mereka bersikap santai saja, dan mengikuti selera Barat: European wish to make the world in its own image.

Sebagai catatan penutup, bahwa dari peristiwa di Perancis kita mesti melakukan kritik dua arah: pertama terhadap nalar sekularisme Barat dan kedua auotokritik terhadap internal ummat Islam. Kritik pertama sudah diulas panjang lebar dalam uraian di atas. Sementara kritik kedua, kita harus jujur mengakui bahwa masih ada aktor dan kelompok tertentu di internal Islam yang kerap melakukan ujaran“olok-olok”terhadap tradisi dan simbol agama lain di Indonesia. Seperti yang kita rasakan saat ini, olok-olok selalu tidak menyenangkan, bahkan menyakiti dan melukai perasaan. Oleh sebab itu, di momen“maulid”yang agung ini, kita mestinya mengingat kembali pesan utama kerasulan Muhammad: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlak”.

Ucapan Nabi itu termanisfestai pada keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari: ia memaafkan siapa saja yang membencinya, ia mendoakan siapa saja yang memusuhinya,dan ia membelas orang-orang yang menyerangnya dengan welas asih. Tentu kita bukan Nabi, dan tak mampu mengikuti jejak langkahnya secara penuh dan utuh. Kita boleh tersinggung, kita boleh sedih, kita boleh marah, dan kita boleh merasa dilecehkan. Namun setidaknya, semoga teladan Rasul bisa mengantarkan kita pada sikap dan respon yang terukur dan jernih atas peristiwa yang sedang kita hadapi. Tentu kita mengecam keras sikap mereka yang anti Islam, namun kita juga harus tetap waspada terhadap kelompok kecil yang merasa mewakili Islam secara luas, yang ironisnya justru mencoreng citra Islam itu sendiri. Akhirnya, kita mesti senantiasa “amar ma’ruf bil ma’ruf, wa nahi munkar bil ma’ruf” untuk dan demi menjaga marwah Islam dan figur Rasulullah yang kita cintai. (STV)