TGH Umar Kelayu, Gurunya Para Tuan Guru (Pertama)

2119

Tuan Guru Haji Umar dilahirkan di Desa Kelayu Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur NTB sekitar tahun 1208 H. (1789 M) dari pasangan Kyai Retane alias Syekh Abdullah dan Hajjah Siti Aminah.Dalam konteks sosial-keagamaan leluhurnya terkenal ‘alim dan taat menjalankan syari’at agama Islam.

Mereka tergolong bergaris keturunan darah biru kerajaan Selaparang, yang berasal dari keturunan Penghulu Agung kerajaan Selaparang yaitu Kyai Nurul Huda, ia mempunyai seorang putra yang bernama Kyai Ratane, Kyai Ratane mempunyai tujuh orang anak, salah satunya adalah  TGH, Umar Kelayu. Kyai Nurul Huda dikenal juga dengan Datuk Uda, adalah kakek dari TGH Umar Kelayu yang merupakan putra dari Penghulu Agung Kerajaan Selaparang.  Sedang ayah dari TGH Umar adalah Kyai Ratane Yang kemudian juga diangkat sebagai Qadi di Selaparang.

Menurut riwayat, sewaktu TGH Umar masih dalam kandungan, pada tanggal 27 Ramadhan 1207 H. ketika ibundanya mengambil air wudlu’ untuk persiapan sholat Subuh menjelang fajar tiba, ia melihat cahaya yang amat menakjubkan di sekitar lumbung di halaman rumahnya.

Setalah selesai berwudlu’ ia naik ke gelamparan lumbung dan melihat seluruh benda-benda di sekelilingnya bersama-sama merunduk, seolah-olah sedang bersujud menyembah Allah SWT.” Masya Allah! Apa yang terjadi?”  pikirnya, Sejenak beliau tertegun dan mengingat cerita-cerita leluhurnya yang sering didengarnya semenjak kecil, bahwa salah satu pertanda malam Lailatul Qadr adalah adanya pandangan menakjubkan yang hanya dilihat oleh orang yang dikehendaki Allah SWT.

Seketika itu pula ia teringat pada anak yang dikandungnya yang baru berusia beberapa bulan, dan seraya ia berdo’a:  “Ya Allah, ku mohon kepada-Mu, berikanlah karunia-Mu berupa iman yang kuat kepada anak yang kukandung ini agar ia istiqomah dalam kabajikan untuk mengabdi kepada-Mu ”.Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki dan diberi nama Umar. Ibunda yang melahirkan beliau wafat di Kota Makkah pada malam Jum’at tanggal 7 Dzulqaidah 1317 H. 

TGH Umar bersaudara kandung sebanyak tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan.Selama hayatnya, TGH Umar pernah menikah tujuh kali. Pertama, menyunting gadis Kamasan Lombok Barat bernama Asiah, yang setelah menunaikan ibadah Haji bernama Hajjah Asiah. Hj Asiah melahirkan beberapa anak, yang pertama laki-laki bernama Muhammmad Rais, sehingga di Kelayu dan di Makkah beliau lebih akrab di panggil Ma’ Rais. Anak-anak yang dilahirkan sangat jarang yang berumur panjang, karena rata-rata meninggal sewaktu belum balig, kecuali yang bungsu bernama Akar.

Setelah dewasa dan menunaikan ibadah Haji, Akar bernama TGH. Badarul Islam (sebutannya: Tuan Guru Badar ) TGH Badar kemudian menikahi putri dari Jero Mihram alias Haji Muhammad Kasim yang bernama Hj. Aminah sekitar tahun 1904. Sejak pernikahan tersebut TGH Badar tinggal berumah di Pancor.TGH Umar menikah di Kota Makkah dengan Hj. Raden Roro ( Rr) Amnah binti Syekh Raden Tayyib berasal dari Banyuwangi Jawa Timur.  Hj.  Rr. Amnah adalah cucu dari Temenggung Banyuwangi yang bernama Temenggung Raden Pringgokusumo.

Beliau dikarunia dua orang anak laki-laki dilahirkan di Kota Makkah pada hari Ahad tanggal 25 Robiul Akhir 1320 H. bernama Haji Ahmad Badarudin yang kemudian dimasa tuanya lebih di kenaldengan Haji Ahmad Tret-tet-tet. Di Pulau Lombok Haji Ahmad Tret-tet-tet sangat terkenal dan disegani karena karomahnnya. Salah satu karomahnya yang disaksikan orang banyak yaitu ketika mengantar kepergian TGH Umar ke Labuhan Haji pada pemberangkatan hajinya. 

Ketika terakhir kali keberangkatannya  ke Tanah Suci Makkah  (Januari 1930), kapal Haji yang mengangkut ayahandanya tidak dapat angkat jangkar pada waktu yang telah dijadwalkan. 

Konon, itu disebabkan haji Ahmad ingin ikut tetapi tidak diberikan. Pada saat itu beliau menghilang selama dua hari dua malam. Akhirnya kapal haji dapat diberangkatkan setelah beliau mengikhlaskan kepergian ayahandanya.

Haji Ahmad telah wafat di Pulau Lombok pada tahun 1988 dan dimakamkan di Karang Kelok Mataram.Istri-istri TGH Umar selain dari dua orang yang tersebut di atas ada juga dapat melahirkan anak dan ada juga yang tidak dapat melahirkan anak.

Istri-istri beliau yang dapat melahirkan anak masing-masing : (1) Hajjah Aisyah dari Kelayu dinikahi pada bulan Jumadil Awwal 1324 H. beliau dikarunia dua orang anak, yaitu yang laki-laki bernama Haji Abdullah yang dilahirkan di Kota Makkah pada tanggal 19 Syawal 1347 H. dan yang perempuan bernama Hajjah Hurul’ain,  (2) Hajjah Aminah binti KH. Khalil Bangkalan Madura dan dikaruniai seorang anak bernama Hajjah Hafsah. (3) Hajjah Surati dikaruniai dua orang anak masing-masing Hajjah Subuhiyah dan Hajjah Husniyah. Istri-istri beliau ada sebagian telah wafat semasa hayat TGH Umar,  ada yang sudah dicerai sebelum wafatnya TGH Umar.(Bersambung)