EDITORIAL : Peringatan HARI HIV/AIDS Sedunia, Penderita HIV/AIDS Lombok Timur Urutan Kedua Setelah Mataram

208

SELAPARANGTV.ID –Setiap tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari HIV/AIDS sedunia.
Peringatan tersebut selalu ditandai dengan pita merah.

Data penderita HIV/AIDS di NTB, sejak awal ditemukan 2001 sampai dengan Mei 2018 sebanyak 1.493 orang.
Penderita HIV sebanyak 657 orang sedangkan yang sudah masuk pada stadium AIDS sebanyak 836 orang.

Tak dipungkiri lagi bahwa pengidap HIV/AIDS rata-rata masih didominasi usia produktif antara 25 tahun sampai 40 tahun.
Sesuai data resmi yang dikeluarkan Dinas Kesehatan NTB, temuan kasus berdasarkan jenis kelamin, perempuan sebanyak 61,09 % sedangkan laki-laki sebanyak 38,91 %.

Sementara temuan kasus berdasarkan pekerjaan, yang paling mencengangkan adalah urutan tertinggi kedua, ternyata di dominasi Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 272 penderita. Urutan pertama ditempati wiraswasta sebanyak 322 penderita.

Jadi pemikiran bersama, mengapa penderita HIV/AIDS didominasi dari kalangan perempuan terutama ibu – ibu rumah tangga?
Kasus seperti ini cukup memilukan.
Perempuan lebih mendominasi karena pasangan mereka belum terbuka terhadap statusnya sebagai pengidap HIV/AIDS. IRT ini sebelumnya tidak melakukan kegiatan menyimpang tetapi karena pasangan banyak yang tidak jujur jadinya mereka ikutan tertular.

Dari 1.493 pengidap HIV/AIDS, ternyata Kota Mataram yang paling mendominasi temuan kasus. Total akumulasi yang dihimpun sejak 2001 hingga Mei 2018, sebanyak 519 kasus. Untuk pengidap HIV sebanyak 272 kasus dan pengidap stadium AIDS sebanyak 247 kasus.

Disusul Kabupaten Lombok Timur, sebanyak 244 kasus. Pengidap HIV sebanyak 104 orang dan stadium AIDS sebanyak 140. Sedangkan urutan ketiga adalah Kabupaten Lombok Barat sebanyak 231. Pengidap HIV sebanyak 119 orang dan stadium AIDS sebanyak 112 orang.

KPA NTB harus menemukan kasus sebanyak 3.090 kasus sedangkan kasus yang baru ditemukan masih 50 persen. Hal ini dipicu mereka yang belum berani membuka status, karena dikhawatirkan mendapatkan stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat.
Memang HIV/AIDS adalah penyakit yang mematikan karena menyerang sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi penyakit menular ini tidak mudah untuk ditularkan. Kecuali dari ASI yang sudah tertular HIV/AIDS, hubungan seksual, penggunaan NAPZA dan jarum suntik dan lainnya.
Masyarakat yang pernah melakukan perilaku menyimpang, untuk segera melakukan konseling dan tes darah di puskesmas terdekat. Sebab pemerintah telah menyediakan layanan konseling dan pemberian obat antiretroviral (ARV).

“Untuk semua generasi milenial di NTB, ayo lakukan tes dan konseling HIV/AIDS biar sedari dini kita bisa deteksi dan cegah penularannya. ARV ini juga sudah tersedia di rumah sakit seluruh NTB, gratis,” tutupnya.

2019, HIV/AIDS Meningkat

Penemuan kasus HIV/AIDS di NTB terus meningkat. Pada 2019 ini, angkanya secara kumulatif sudah mencapai 1.865 kasus. Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi NTB menyebut, peningkatan penemuan kasus HIV/AIDS sangat drastis di Kabupaten Bima dan Kota Bima.
Di Bima sudah lebih dari 100 kasus. Padahal dulu tahun 2018 cuma 50 kasus. Di Kota Bima sudah ada 60 kasus lagi.

Ia menyebutkan secara kumulatif kasus HIV-AIDS di NTB sampai 2019 sebanyak 1.865 kasus. Angka ini meningkat dibandingkan 2018 sebanyak 1.640 kasus. Pada 2019 saja, penemuan kasus HIV/AIDS di NTB sebanyak 225 kasus.

Penemuan kasus HIV/AIDS di NTB baru sekitar 63 persen. Diperkirakan kasus HIV/AIDS di daerah ini mencapai 3.090 kasus.

Laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK dan laki-laki yang tertular HIV dari PSK akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Kasus-kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga merupakan bukti dari perilaku laki-laki ‘hidung belang’.

Pengidap HIV dan pengidap AIDS berbeda. Yang benar adalah pengidap AIDS adalah orang-orang yang sudah mengidap HIV yang terdeteksi pada masa AIDS. Artinya, tertular HIV dulu baru masuk masa AIDS. Ada yang terdeteksi sebelum masa AIDS dan ada pula yang terdeteksi pada masa AIDS dengan penyakit yang disebut infeksi oportunistik .

HIV dan AIDS tidak membunuh penderitanya. Yang mematikan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah penyakit yang muncul pada masa AIDS, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, ruam, sariawan, TB, dll. Pada orang yang tidak mengidap HIV/AIDS penyakit ini mudah disembuhkan, tapi pada ODHA sulit sembuh karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah rendah.

Disebutkan pula kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada TKI mencapai 20,7 persen. Ini merupakan tantangan bagi Pemkab Lotim karena TKI terutama TKW berisiko tertular HIV, antara lain, karena di beberapa negara tujuan TKW kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi.

Risiko TKI/TKW tertular HIV adalah ketika mereka diperkosa atau dinikahi.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada TKI/TKW dengan melakukan tes HIV bagi TKI/TKW yang baru tiba dari luar negeri dinilai cara ini cukup diskriminatif karena tidak dilakukan kepada semua orang yang baru pulang dari luar negeri.

Faktor risiko (mode of transmission) dikabarkan 53 persen melalui hubungan seskual pada heteroseks (laki-laki dengan perempuan). Salah satu faktor yang mendorong penyebaran HIV dengan faktor risiko hubungan seksual adalah (praktek) pelacuran karena laki-laki ’hidung belang’ enggan memakai kondom.

Biar pun di Lotim tidak ada lokalisasi pelacuran itu tidak merupakan jaminan bahwa di Lotim tidak ada (praktek) pelacuran. Karena praktek pelacuran tidak dilokalisir maka penyebaran HIV pun terjadi dengan mata rantai laki-laki ’hidung belang’ pelanggan PSK.
Terdapat 7 kategori kelompok yang beresiko, pria penjaja seks (PPS), wanita penjaja seks (WPS), laki suka laki-laki (LSL), waria, pelanggan pekerja seks, pasangan resiko tinggi (Resti) dan pengguna Narkoba suntik (Penasun).”

Yang berisiko tertular HIV bukan kelompok, tapi orang per orang berdasarkan perilaku seksnya. Seorang PSK pun tidak berisiko tinggi kalau dia hanya melayani laki-laki ’hidung belang’ yang memakai kondom.

Dalam kaitan itu yang perlu diintervensi oleh Pemkab Lotim adalah pelanggan PSK. Dalam kehidupan sehari-hari mereka ini bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, duda, lajang atau remaja.

Jika ada di antara mereka yang tertular HIV maka merekalah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Untuk itulah perlu regulasi melokalisir pelacuran dan menjalankan program ’wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki pelanggan PSK.
Nah, untuk menghindari menumpuknya kasus-kasus ODHA di Lombok Timur khususnya, pegangan utama adalah Iman dan Takwa.
Tidak mudah terbius dengan nafsu syahwat yang justru dapat menjerumuskan kita ke lembah nista.
Pemerintah Daerah Lombok Timur, sesegera mungkin memberikan edukasi yang mampu menangkal perilaku-perilaku negatif yang dihadapi masyarakat. (*)