Sumber Mata Air Peninggalan Belanda di Desa Tirtanadi Mengecil

1039

SELAPARANGTV.ID- Sumber Mata Air Peninggalan Belanda di Desa Tirtanadi Mengecil Kemarau yang berkepanjangan melanda hampir seluruh Indonesia membuat sumur, sungai hingga sumber mata air untuk kebutuhan sehari-hari warga mulai mengalami kekeringan. Tak terkecuali dengan sumber mata air peninggalan Belanda atau yang sekarang disebut Mata Air Eka Mental yang terdapat di Dusun Tirpas, Desa Tirtanadi Kecamatan Labuhan Haji. Debit mata air tersebut saat ini mulai mengecil tidak seperti biasanya melimpah.

Salah seorang warga Desa Tirtanadi, Sahur, menuturkan, tahun ini kondisi sumber mata air Belanda mulai mengecil sejak tiga bulan terakhir. Padahal tahun sebelumnya air mengecil hanya Sampai satu bulan saja. Sehingga masyarakat yang mengambil air harus menggunakan selang untuk menyedot air agar berada dalam tampungan. Itu dilakukan warga agar air bisa keluar dan memenuhi galon dan jerigen yang dibawa warga sebagai wadah menaruh air.

“Semua masyarakat yang mengambil air ditempat ini membawa selang dari rumah,” kata Sahur yang merupakan satu dari ratusan warga yang setiap hari mengambil air.

Setiap harinya tempat ini tidak pernah sepi oleh warga yang berdatangan untuk mengambil air. Bahkan warga yang mengambil air tidak hanya dari dusun atau Desa Tirtanadi saja, melainkan hampir seluruh desa yang ada di Kecamatan Labuhan Haji.

Sementara itu Ketua Badan Permusawaratan Desa (BPD) Desa Tirtanadi Rusliadi mengatakan,
masyarakat disekitar Desa Tirtanadi, Korleko selatan, Anggaraksa, Tanah Gadang Wanasaba hingga ke Labuhan Haji bahkan sampai Jerowaru dan Selong juga mengambil air. Mereka mengambil air karena memang air yang keluar dari tempat tersebut memiliki kesejukan atau sensasi yang berbeda ketika diminum.

Karena banyaknya permintaan untuk mengambil air di tempat ini dan kurang perawatan maka pemerintah membuatkan Peraturan Desa (Perdes) tahun 2014. Salah satu isinya adalah Sebagai sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) dengan memungut biaya kepada warga dari luar Desa Tirtanadi, dengan membayar iuran sebesar 1.000 per galon. Oleh Karena itu Pihak Pemdes pada tahun 2020 akan memperbaiki sistem dengan memasang alat atau mesin penyaring seperti air isi ulang yang selanjutnya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat.

“Upaya kita tahun ini akan memasang alat penyaring air agar lebih bersih dan steril, mudahan -mudahan air kembali normal seperti biasanya,” Kata Rusli.

Rusli menjelaskan bahwa untuk pengelolaan menjadi tanggung jawab Bumdes. Hasilnya akan diperuntukkan pada pemeliharaan serta penanaman pohon disekitar lokasi untuk menjaga air tetap tersedia.

Adapun anggaran yang dialokasikan untuk program ini berkisar 50 juta rupiah.

“Sekitar 2 tahun lalu kita pernah menarik iuran kepada masyarakat, namun air tidak keluar, dan kita dituding oleh masyarakat gara-gara penarikan iuran, air jadi ngambek dan tidak mau keluar. Maka pada tahun berikutnya kita tidak lagi meminta iuran namun tatap saja air tidak keluar, penyebab air tidak keluar lantaran musim kemarau setelah datang musim hujan air normal seperti biasa. Sejak dibangun tahun 1975 Mata Air Eka Mental hanya di tahun 2019 air mulai surut,” Beber Rusli kepada wartawan yang sedang menyaksikan masyarakat mengambil air. (STV-4)