EDITORIAL : Lombok Timur Transit Peredaran Narkoba

75

Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (Narkoba) memberikan rasa aman, flay, keberanian, kesenangan, kenikmatan dan segala bentuk sukacita dan keindahan yang luar biasa bagi penggunanya. Sebagian orang menganggap bentuk pelarian atas dilematis sebuah persoalan.
Ada pula yang menjadikan barang haram tersebut sebagai lahan bisnis yang sangat menggiurkan. Karena, keuntungan yang berlipat-lipat.

Namun, sudahkah para pelaku memperhitungkan effect lain dari aktivitas yang dilakukannya? Ataukah, pernahkah berpikir dampak buruk terhadap orang lain hingga resiko yang mereka dapatkan?

Terkadang, sinisme ini terlontar oleh mereka yang dinilai anti terhadap barang haram tersebut. Tetapi, bagi mereka yang terlibat langsung dalam permainan itu, menganggap sebagai resiko sebuah pekerjaan.
Keniscayaan inilah yang menjadi faktor penting dalam menghentikan atau justru berkembang biak pada para pelaku kejahatan Narkoba.

Dalam 2 Minggu terakhir bulan Nopember 2019 di Kabupaten Lombok Timur, sudah 3 kasus penyalahgunaan narkoba terungkap oleh Polres Lombok Timur.
Artinya, peluang terungkapnya kembali pelaku-pelaku lainnya, cukup besar. Baik bandar maupun pemasok ke wilayah Lombok Timur, belum sepenuhnya tertangkap. Hanya pemain-pemain amatiran dengan skala kecil yang terungkap.

Lagi-lagi bukan persoalan tersebut yang seharusnya menjadi perhatian utama. Lombok Timur dengan kompleksitas masyarakatnya menganggap peredaran narkoba telah memasuki ‘fase darurat’.
Berkaca dari pengungkapan kasus-kasus sebelumnya bahwa pemerintah selama ini hanya memberlakukan sanksi tegas tetapi tidak dibarengi dengan konsep yang jelas dalam bentuk pengawasan.

Sistem yang diberlakukan selama ini terbukti tidak mempan. Malah, peredaran narkoba yang cukup massif memberikan peluang bagi pemasok dan bandar utama untuk berkreativitas.
Kalangan pelajar, mahasiswa, anak – anak muda bahkan mereka yang tergolong paruh baya pun, tak luput menjadi penikmat barang setan ini.
Secepatnya, Pemerintah melalui aparat penegak hukum bukan hanya memberikan sanksi yang sangat tegas kepada para pelakunya. Tetapi, lebih dari itu mengajak seluruh stakeholder hingga ke tingkat dusun sekalipun untuk menerapkan konsep atau metode pemberantasan narkoba.

Kita ketahui, sanksi sosial ditengah masyarakat serta awig-awig aturan adat masyarakat lokal setempat, mungkin bisa memberikan solusi dalam meminimalisir ruang gerak pelaku pengedar maupun pengguna zat adiktif tersebut.

Selama ini, masyarakat hanya menunggu reaksi aparat kepolisian dalam mengungkap para pelaku. Jika pelakunya kabur atau tidak ditemukan barang bukti jenis narkoba, maka hilanglah konsekuensi hukumnya.
Keterlibatan banyak pihak dalam pengungkapan kasus narkoba bagian penting untuk menciptakan rasa aman ditengah masyarakat. Bisa jadi, anak, keluarga, teman, sahabat atau orang terdekat menjadi korban.
Dalam data yang pernah dirilis, didunia setiap detik pengguna Narkoba harus kehilangan nyawa.

Pernahkah kita membayangkan akibat dari penyalahgunaan narkoba?
Narkoba, cikal bakal kehancuran kehidupan seseorang untuk selamanya jika tidak segera ditangani secara serius. Baik itu keluarga, masyarakat hingga Pemerintah. (*)